Puting Pria

kenapa pria punya puting padahal secara biologis tidak digunakan untuk menyusui

Puting Pria
I

Pernahkah kita berdiri di depan cermin sehabis mandi, menatap pantulan diri, dan tiba-tiba menyadari satu hal yang absurd? Bagi teman-teman pria, coba perhatikan bagian dada. Ya, kita sedang membicarakan puting. Kenapa benda itu ada di sana? Secara fungsional, benda kecil itu sepertinya tidak melakukan apa-apa. Tidak mengeluarkan air susu, tidak membantu kita bernapas, dan jujur saja, kadang malah lecet kalau kita lari maraton memakai baju dengan bahan yang salah. Ini adalah salah satu misteri anatomi paling kocak yang sering kita abaikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah teka-teki kecil yang menempel di tubuh separuh populasi dunia. Mari kita pecahkan misteri ini bersama-sama.

II

Kalau kita mengingat pelajaran biologi di sekolah, kita pasti akrab dengan prinsip evolusi. Konsep dasarnya sangat logis: alam itu sangat efisien dan pelit. Sifat atau organ yang tidak berguna pelan-pelan akan dibuang melalui proses natural selection. Kita kehilangan banyak bulu tubuh tebal karena kita mulai berevolusi menciptakan pakaian dan api. Kita kehilangan ekor karena leluhur kita tidak lagi hidup bergelantungan di pohon. Tapi, puting pria tetap bertahan dengan gagah berani melintasi jutaan tahun sejarah evolusi mamalia. Ada yang aneh di sini. Jika alam sangat kejam terhadap hal-hal yang boros energi dan tidak berguna, kenapa evolusi membiarkan pria menyimpan fitur ini? Pasti ada rahasia besar yang disembunyikan oleh dua titik di dada tersebut.

III

Sebelum masuk ke sains intinya, coba kita renungkan fenomena sosial yang ironis ini. Di media sosial, puting pria bebas ditampilkan ke publik tanpa masalah. Namun, puting wanita—yang jelas-jelas punya fungsi biologis krusial untuk kelangsungan peradaban manusia—malah disensor rapat-rapat. Secara psikologis dan historis, kita membedakan keduanya secara ekstrem. Padahal, rahasia besar dari misteri evolusi ini justru terletak pada kesamaan mutlak di antara keduanya. Fakta yang jarang kita bicarakan adalah: sejarah terbentuknya tubuh kita tidak dimulai saat kita lahir ke dunia. Sejarah itu dimulai di dalam rahim ibu, jauh sebelum dokter bisa berteriak "Selamat, anaknya laki-laki!". Ada satu fase krisis di mana batas antara pria dan wanita sama sekali tidak ada. Di ruang gelap rahim itulah, alam semesta memainkan trik sulapnya yang paling cerdas.

IV

Bersiaplah untuk fakta hard science yang mungkin akan sedikit mengubah cara kita melihat diri sendiri. Inilah jawaban sesungguhnya: cetak biru bawaan atau default setting dari setiap embrio manusia adalah perempuan. Saat kita baru terbentuk, selama beberapa minggu pertama, embrio berkembang mengikuti rancangan dasar yang sama persis, terlepas dari apa kromosom kita. Pada minggu keempat hingga kelima kehamilan, puting mulai terbentuk di tubuh embrio. Nah, bagi teman-teman yang memiliki kromosom XY (pria), ada sebuah saklar genetik bernama gen SRY yang baru "bangun dari tidur" sekitar minggu keenam atau ketujuh. Gen ini tiba-tiba aktif, memicu produksi hormon testosteron, dan membajak arah perkembangan embrio menjadi laki-laki. Tapi, karena puting sudah telanjur dibuat sebelum hormon pria ini mengambil alih kemudi, alam memutuskan: "Ah, biarkan saja di sana, toh membuangnya butuh energi lebih besar daripada menyimpannya." Jadi, puting pria bukanlah organ yang punya tujuan khusus. Mereka hanyalah suvenir dari masa lalu kita.

V

Mengesankan, bukan? Fakta biologi ini sebenarnya mengajarkan kita satu hal filosofis yang sangat indah tentang kehidupan. Di era modern ini, kita sering dituntut untuk menjadi serba sempurna. Kita merasa setiap bagian dari diri kita, baik fisik, karier, maupun mental, harus selalu memiliki fungsi, produktif, dan punya tujuan yang mutlak. Tapi alam sendiri membuktikan bahwa desain yang sangat hebat pun penuh dengan sisa-sisa masa lalu yang useless namun sama sekali tidak berbahaya. Puting pria adalah monumen biologis. Monumen yang mengingatkan kita bahwa kita semua, laki-laki dan perempuan, berasal dari titik awal yang sama persis. Perbedaan kita barulah muncul belakangan. Jadi, lain kali jika kita merasa ada bagian dari diri kita yang aneh, terkesan tidak berguna, atau penuh kekurangan, ingatlah cerita ini. Tubuh kita adalah museum sejarah evolusi yang menakjubkan. Menjadi tidak sempurna dan memiliki hal-hal kecil yang tidak masuk akal adalah bagian paling natural dan manusiawi dari eksistensi kita.